Pada Puncak Pesona Budaya Mappanre Ri Tasi’e di isi dengan syukuran di tengah laut sebagai ungkapan rasa syukur atas hasil laut yang melimpah.
Syukuran di atas kapal menjadi simbol kebersamaan, doa, dan rasa terima kasih nelayan kepada Sang Pencipta.
Prosesi dipimpin oleh Sandro, didampingi Ketua Lembaga Ade Ogi serta tokoh masyarakat setempat.
Suasana semakin semarak dengan parade kapal hias yang turut meramaikan rangkaian acara.
Pada puncaknya, rombongan menuju titik tertentu di laut untuk melaksanakan doa bersama.

Usai prosesi di laut, kegiatan berlanjut di darat dengan jamuan makanan tradisional yang ditancapkan pada batang pisang berhias. Masyarakat dipersilakan mengambil sajian tersebut, bahkan tampak berebut dengan penuh keceriaan sebagai simbol mencari berkah.
Bupati Tanah Bumbu Andi Rudi Latif, melalui Sekretaris Daerah Yulian Herawati, menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan wujud rasa syukur masyarakat nelayan atas limpahan rezeki dari laut.
“Di tengah laut ini, kita duduk bersama, makan bersama, tanpa sekat, menegaskan nilai kebersamaan, gotong royong, dan persatuan yang menjadi kekuatan masyarakat Tanah Bumbu,” ujarnya.
Ia menambahkan, kemajuan daerah tidak hanya diukur dari pembangunan fisik, tetapi juga dari kemampuan menjaga identitas budaya dan kearifan lokal.
Momentum Mappanre Ri Tasi’e juga menjadi ajakan untuk memperkuat komitmen menjaga kelestarian laut.
Pemerintah daerah berkomitmen mendukung nelayan melalui pembangunan infrastruktur pesisir, akses permodalan, penguatan kelembagaan, serta pengembangan pariwisata berbasis budaya.
Sementara itu, Gubernur Kalimantan Selatan H. Muhidin, melalui Staf Ahli Bidang Ekonomi Pembangunan Rusma Khazairin, mengajak masyarakat untuk semakin mencintai dan melestarikan laut dengan menjaga kebersihan pesisir, menghindari penangkapan ikan yang merusak, serta mendukung program pelestarian ekosistem laut.
Tidak ada komentar